Untuk postingan kali ini, saya memposting kisah-kisah para
bule yang menjadi mualaf. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita
untuk mempertebal keimanan. Amin...
1. Seorang Pemadat Belajar Islam Saat Nge “Fly”
Seorang pria
asal Kanada sejak berumur sebelas tahun serius membandingkan agama yang ada
karena dia tidak puas dengan agama asalnya, yaitu kristen. Semua agama ia
pertanyakan kecuali Islam karena menurutnya Islam merupakan agama para teroris
sebagaimana yang selama ini dikesankan oleh media Barat pada umumnya.
Namun sebelum
pencariannya menemukan titik temu, orang tuannya harus bercerai. Ayahnya
meninggalkan ia dan ibunya, sementara ibunya terjerembab ke dalam lubang hitam
narkoba. Begitupun dengan dia. Awalnya dia hanya sebagai pengguna tapi tak lama
kemudian dia menjadi salah seorang pemimpin jaringan narkoba papan atas di
Kanada.
Saat dia
berada di puncak karirnya, dia tertangkap oleh Polisi dan sempat ditahan selama
4 tahun.
Setelah keluar
dari penjara, ia pergi ke tempat favoritnya yaitu pangkalan para pemadat. Saat
sedang sakau, dia duduk disebelah seorang muslim yang berasal dari Maroko. Lalu
ia menanyakan tentang islam kepadanya dan pemuda Maroko itu menjawab sebatas
pengetahuannya. Sehingga setelah pemuda Maroko itu sudah habis pengetahuannya
tentang islam, datang pemuda kedua yang berasal dari Aljazair. Maka pembicaraan
tentang islam itu beralih dengan pemuda asal Aljazair itu sebagai narasumbernya.
Dan berawal
dari perbincangan di pangkalan para pemadat itu, akhirnya pemuda tersebut
mendapat hidayah iman dan islam, dia menjadi seorang muallaf dengan
mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Sumber : Era Muslim
2. Bocah Amerika Masuk Islam Karena Membaca Buku
Seorang bocah
Amerika yang bernama Alexander Pertz lahir pada tahun 1990 dari kedua orang tua
kristen. Dari kecil, ibunya memberi kebebasan kepadanya untuk memilih agamanya
sendiri. Saat Alexander sudah bisa membaca dan menulis, ibunya memberikannya
buku-buku agama dari semua agama. Setelah membaca buku-buku itu secara
mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim, padahal dia belum
pernah bertemu dengan muslim seorangpun.
Saat dia
ditanya mengapa dia memilih islam bukannya agama lain, ia menjawab ” Aku tidak
tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan
setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”
Sebagai bukti
cintanya kepada islam, dia sudah mempelajari sholat, mengerti banyak
hukum-hukum syar’i, belajar sejarah islam, mempelajari banyak kalimat bahasa
Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar azan. Selain itu, dia mengganti
namanya menjadi Muhammad Abdullah dengan tujuan mendapat keberkahan dari
Rasulullah SAW.
Anak itu
memiliki banyak cita-cita, diantaranya yaitu ingin pergi ke Mekkah untuk
menunaikan ibadah haji dan mencium hajar aswad. Selain itu, dia juga
bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin, ingin belajar
bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.
3. Mathew, Jadi Muslim Setelah
Diajak ke Masjid
Mathew adalah
seorang warga Perancis, ia sudah tidak asing lagi dengan islam karena dia
tiggal di lingkungan imigran yang kebanyakan muslim. Dia merupakan seseorang
yang bergaul tanpa melihat perbedaan warna kulit dan latar belakang agama.
Pada suatu
hari, dia sedang bermain sepakbola bersama temannya. Tiba-tiba datang
sekumpulan muslim sehingga ia memutuskan untuk menghentikan permainnya. Pada
saat itu, kelompok itu membicarakan tentang islam dan mengundang Mathew untuk
datang ke mesjid dan mempelajari tentang islam.
Mathew
akhirnya mendatangi undangan kelompok itu dan setelah ia mendengarkan
penjelasan tentang islam dia tertarik dengan cara muslim berkomunikasi dengan
tuhannya. Dari situ, Mathew mulai tertarik dengan islam dan mulai mencari
informasi lebih dalam lagi. Dia mendapat informasi tentang shalat, puasa, zakat
dan lain-lain. Selain itu dia juga menganggap bahwa islam adalah agama yang
cocok untuknya karena islam mengajarinya bagaimana menghormati orang, belajar
dan hidup teratur. Alhamdulillah Mathew akhirnya memutuskan untuk mengucapkan
dua kalimat syahadat.
Selain itu,
keluarganya juga tidak keberatan dengan keputusannya untuk masuk islam. Menurut
mereka, lebih baik anaknya menghabiskan waktu di mesjid daripada di jalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar